SIRKULASI DADA UU ITE
Saking bejubelnya konflik, kadang-kadang kita sulit untuk menempatkan kapan tertawa, kapan menangis. Waktu kapan untuk berkeluh-kesah, kapan untuk bersenda-ria.
Satu jam saja bertemu kawan-kawan, bisa jadi topik pembahasan kita nano-nano. Dibuka dengan cerita megahnya pertunangan Lesti dan Rizky Bilar. Ditutup dengan kisah tukang angkot yang sepi penumpang. Dada kita dipacu untuk beradaptasi dengan senang-sedih secara siap saji.
Patriarki, korupsi, kolusi, nepotis, premanisme, terorisme dan segala tetek-bengek tentang kebengisan. Kita tak pernah tahu kenapa api terus menjalar.
Atlet naik kancah, buku pribumi dijejer di Frankfut, Netflix ditembus sineas muda, dan segala hal tentang progresifitas. Mawar tak memilih hidung siapapun untuk disuguhkan aromanya.
Senang sedih selalu beradu penguasaan dalam diri kita.
Wilhen Dilthey sangat antusias menyimak karakteristik manusia dalam kacamata makro. Baginya, setiap peradaban atau sebuah era baru, akan membentuk kepribadian manusianya.
Misal, perihal konten poster demo dari era ke era. Semasa Soeharto, pendemo membawa poster berisi pesan horor, penuh kecaman dan jargon keras ala pejuang
nasionalis.
Berbeda dengan era Jokowi, di mana pendemo membuat poster dengan nada sindiran ala-ala postingan twitter. Kalo kaum rebahan saja sampai turun ke jalan, negara dalam bahaya. DPR tidur saja, kalo bangun cuma bikin masalah. Nuansa komedi yang begitu sangat kental.
Dari situ kita bisa melihat perbedaannya. Bisa jadi, dulu hal paling penting adalah nyawa. Sehingga orang siaga dari ancaman-ancaman fisis. Sudah jadi rahasia umum era Soeharto banyak aktifis diculik, bahkan kehilangan nyawa. Kedua belah pihak siaga menjaga nyawanya.
Sekarang, hal paling menakutkan bukanlah kematian pada tubuh. Kasarnya, nyawa urusan belakang. Hal paling menakutkan sekarang adalah saat mendapatkan sindiran dan dipermalukan.
Era kini memiliki dua dunia. Yang terberat saat seseorang disindir di dunia maya. Jutaan orang siap berkomentar. Menertawakan. Seketika seolah-olah kematian datang.
Tiap hari, selama gadget menjadi teman, tiap hari juga dada kita akan beradaptasi dengan penjungkir-balikan perasaan. Semenit senang, semenit sedih. Dan nyatanya, sekelas pejabat juga memikirkan hal itu tuh!
UU ITE dan Siasat Pecundang.
Perkara UU ITE tak mau kalah dengan Pandemic Covid-19. Dibuat seperti vaksin bagi para pemangku kepentingan. Mereka dengan ketakutannya jadi bual-bualan netizen, sampai-sampai rela terus bertarung dengan rakyat yang vokal akan kontranya dengan UU pasal karet tersebut.
Candaan netizen, bisa jadi berujung penjara. Menyindir pejabat adalah fitur terbaru medsos yang dibuat dari api neraka. Jika kita mengeklik, siap-siap berhadapan dengan para pengacara.
Para pejabat atau siapapun itu, jelas-jelas pengecut jika berlindung di pasal-pasal karet. Jika tak ingin berperang, jangan sok jadi pemimpin saat perang berlangsung. Resiko perang berimbas kematian. Kematian karakter. Kematian jati diri. Kematian ketokohannya. Dibilangin, makanya jangan korupsi!
Eksploitasi tanah habis-habisan. korupsi bertubi-tubi. Kongkalikong dengan para mafia. Atas nama 'nama baik', semua itu patut dilindungi. Bahkan sekelas Presiden, perlu perlindungan di bawah jangkauan UU ITE. Nyatanya, semua takut ditertawakan.
Semua sudah mafhum. Saya tak ingin menjabarkan betapa njubjeg-nya kasus-kasus kebengisan. Betapa kita sebenarnya sudah muak. Ingin menghindari circle kebengisan, malah ditampung oleh kelompok oportunis. Serasa semua ujung adalah neraka.
Beberapa bulan yang lalu, seorang teman aktivis di sebuah organisai mengajukan gugatan pencemaran nama baik. Sebuah media memberitakannya. Ia menggugat salah satu pejabat. Keren.
Kasus bermula saat sebuah video pejabat viral, menuduh salah satu senior organisasi si aktivis menjadi perusuh dalam sebuah demonstrasi. Padahal Si Senior itu sekadar mendampingi rakyat kecil menuntut haknya. Mulia hati.
Saya senang. Sebab, selalu ada manusia yang memperjuangkan rakyat kecil. Penuntut, tertuduh dan pejabat, segera melakukan pertemuan. Saya kira, problem rakyat kecil jadi fokus utama dalam pertemuan tersebut. Toh, kasus dimulai sebab ada rakyat yang ditindas. Eh...
Baru hitungan sehari, sebuah video tersebar. Si Senior dan Si Pejabat besalaman, saling memaafkan. Berpose laiknya teman akrab. Apakah permasalahan rakyat kecil akhirnya terangkat ke publik? Nihil.
Rakyat hanya batu loncatan. Dijadikan sebagian aktivis untuk gagah-gagahan. Kalau sudah dapat untung, nama baik, citra, dan segala tetek bengek stimulus akan elektabilitas, mereka akan bersiasat jadi wakil rakyat. Begitu seterusnya.
Semoga selalu ada manusia-manusia baik. Yang kuat beradaptasi dengan senang-sedih yang dihadirkan secara siap saji. Semoga kita.
Komentar
Posting Komentar